fb

Dec 6, 2010

Suami, Pemimpin bagi Keluarga

Awal mula kehidupan seseorang berumah tangga adalah dimulai dengan ijab kabul. Saat itulah yang halal bisa jadi haram, atau sebaliknya yang haram bisa jadi halal. Demikianlah Allah telah menetapkan bahwa ijab kabul walau hanya beberapa patah kata dan hanya beberapa saat saja, tapi ternyata bisa menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.




Saat itu terdapat mempelai lelaki, mempelai wanita, dan saksi lalu ijab kabul dilakukan, sahlah keduanya sebagai suami-isteri. Status keduanya berubah, ada asalnya kenalan biasa tiba-tiba jadi suami, adapula yang tadinya tetangga rumah tiba-tiba jadi isteri. Orang tua pun yang tadinya sepasang, saat itu tambah pula sepasang, dialah orang tua isteri atau suami. Kerananya, andaikata seseorang berumah tangga dan dia tidak siap serta tidak mengerti bagaimana memposisikan diri, maka rumah tangganya hanya akan menjadi awal berdatangan aneka masalah. 

Ketika seorang suami tidak sedar bahawa dirinya sudah beristeri, lalu bersikap seperti seorang yang belum beristeri, akan jadi masalah. Dia juga punya mertua, itupun harus menjadi bahagian yang harus disedari oleh seorang suami. Setahun, dua tahun kalau Allah mengizinkan akan punya anak, yang bererti bertambah lagi status sebagai bapa. Ke mertua jadi anak, ke isteri
jadi suami, ke anak jadi bapa. Bayangkan begitu banyak status yang disandang yang kalau tidak tahu ilmunya justeru status ini akan membawa mudharat. Kerananya menikah itu tidak semudah yang diduga, pernikahan yang tanpa ilmu berarti bersiaplah untuk segera mengharungi aneka derita. Kenapa ada orang yang stress dalam rumah tangganya? Hal ini terjadi kerana ilmunya tidak memadai dengan masalah yang dihadapinya. 

Begitu juga bagi wanita yang menikah, ia akan jadi seorang isteri. Tentu saja tidak bisa sembarangan kalau sudah menjadi isteri, kerana memang sudah ada ikatan tersendiri. Status juga bertambah, jadi anak dari mertua, ketika punya anak jadi ibu. Demikianlah, Allah telah menjadikan sedemikian rupa sehingga suami dan isteri, keduanya mempunyai peranan yang berbeza-beza. 

Tidak bisa isteri menuntut emansipasi, kerana memang tidak perlu ada emansipasi, yang diperlukan adalah saling melengkapi. Seperti halnya sebuah bangunan yang menjulang tinggi, ternyata dapat berdiri kukuh kerana adanya prinsip saling melengkapi. Ada simen,bata, pasir, beton, kayu, dan bahan-bahan bangunan lainnya lalu bergabung dengan tepat sesuai posisi dan proporsinya sehingga kukuhlah bangunan itu. 

Sebuah rumah tangga juga demikian, jika suami tidak tahu posisi, tidak tahu hak dan kewajiban,begitu juga isteri tidak tahu posisi, anak tidak tahu posisi, mertua tidak tahu posisi, maka akan seperti bangunan yang tidak diatur komposisi bahan-bahan pembangunnya, ia akan segera runtuh tidak keruan. Begitu juga jika mertua tidak pandai-pandai jaga diri, misal dengan masuk campur langsung pada pentadbiran rumah tangga anak, maka sang mertua sebenarnya tengah mengaduk-aduk rumah tangga anaknya sendiri. 

Seorang suami juga harus sedar bahawa ia pemimpin dalam rumah tangga. Allah SWT dalam hal ini berfirman :
"Laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, kerana Allah telah melebihkan sebagian dari mereka atas sebagian yang lainnya dan karena mereka telah membelanjakan sebagian harta mereka..."(Q.S. An-Nisa :6) 

Kepada pembantu jangan hanya mampu suruh kerja saja, kerana kalau saja dulu lahirnya Allah tukarkan, majikan lahir dari orang tua pembantu, dan si pembantu lahir dari orang tua majikan, maka si majikan yang justru sekarang lagi ngepel. Pembantu adalah titipan Allah, kita harus mendidiknya dengan baik, kita tambah ilmunya, mudah-mudahan orang tuanya bantu-bantu di kita,
anaknya bisa lebih tinggi pendidikannya, dan yang terpenting lagi lebih tinggi akhlaknya. 

Inilah pemimpin ideal, yaitu pemimpin yan bersungguh-sungguh mahu memajukan setiap orang yang dipimpinnya. Siapapun orangnya didorong agar menjadi lebih maju. Untuk menjadi Seorang pemimpin di dalam rumah tangga seorang suami haruslah mempunyai ciri-ciri dan pekerti yang baik



Antara ciri-ciri suami yang baik
  • Suami yang taat dalam melaksanakan perintah serta suruhan Allah dan Rasulnya dan dapat pula membimbing isterinya.
  • Suami yang mampu memberikan nafkah sama ada zahir ataupun batin
  • Suami yang sedia memberikan nasihat, bimbingan, dorongan, didikan dan tunjuk ajar dalam melaksanakan tugas serta tanggungjawap rumahtangga dan juga terhadap Allah s.w.t
  • Suami yang bijak dalam menyelesaikan permasalahan isteri yang timbul bersama jiran tetangga atau sebagainya.
  • Suami yang dapat memberikan pemerhatian dalam hal keselamatan, kebajikan dan kesihatannya.
  • Suami yang dapat menyediakan tempat tinggal, pakaian dan makanan yang sempurna mengikut kemampuanya
  • Suami yang penyabar dan tidak menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan sesuatu masalah atau untuk mendapatkan sesuatu.
  • Suami yang tidak cemburu buta tanpa asas terhadap isterinya yang mana boleh merosakkan keutuhan rumah tangga mereka.
  • Suami yang sentiasa memberikan kasih sayang, belas kasihan dan pergaulan yang baik terhadap isterinya
  • Suami yang sentiasa menjaga rahsia isterinya dan tidak di dedahkan kepada orang lain
  • Suami yang ikhlas dan jujur serta dapat menepati janji terhadap isteri dan anak-anak.
  • Suami yang menjauhkan diri dari perbuatan maksiat seperti meminum minuman keras, berjudi, berzina, menipu, mencuri dan sebagainya
  • Suami yang dapat memberikan penjagaan dan pemerhatian yang baik terhadap isterinya penjagaan ini meliputi semua hal termasuk kehormatannya
  • Suami mestilah bijak memahami perasaan dan hati isteri sama ada dengan perbuatan atau perkataan, jangan biarkan dirinya dalam keadaan sedih
  • Suami yang sentiasa mengutamakan kebersihan diri, zahir dan batin
  • Suami mestilah menahan dirinya dari bergaul secara bebas dengan wanita lain
  • Suami yang dapat menyelidik secara cermat dan teliti segala hal yang disampaikan oleh orang lain yang berkaitan dengan isterinya.
  • Suami yang bijak dalam memimpin tumah tangganya dengan penuh amanah serta bertanggungjawab.
Buat semua kaum adam.. hargailah isterimu dengan sepenuh perhatian.. Mereka dihadirkan dalam hidup lelaki adalah untuk dibimbingi, dilindungi, dan disayangi... Dan sebagai pelengkap dalam kehidupan kita sebagai pemimpin.. Janganlah jadikan isteri kita sebagai tempat kita melepaskan kemarahan dan tekanan.. Moga di hari maal hijrah ini.. Buat semua para suami kita menanam azam untuk menjadi seorang lelaki, suami dan ayah yang baik lagi memberi contoh yang terpuji... InsyaAllah...

No comments:

Post a Comment

Post a Comment